Pages

Ads 468x60px

Featured Posts

Jumat, 06 Desember 2013

Imajiku pada 'Yang Tercinta'


Di setiap jeda dari panggilan suci dari-Nya yang tlah selesai dikumandangkan, kuajak si debay menengadahkan kedua telapak tangan. Bersamanya bersimpuh di atas sajadah panjang yang anggun dengan warna marun kemerahan yang mendasarinya. Detik demi detik terlalui dengan isak tertahan. Istana mungil yang penuh dengan aura kebahagiaan ini terlalu sempit untuk menyekap bebunyian yang diiringi dengan buliran bening air dari sudut mata. Akibatnya, tak sekalipun kuijinkan desakan dari dengungan isak yang bersikeras untuk memuntahkan isinya.

Si debay menjadi terbiasa dengan getaran-getaran halus yang menerpa singgasananya. Dia tidak lagi protes dengan tingkah ibunda. Baginya, getaran itu ibarat ayunan yang mampu membuatnya terbuai dan akhirnya mengantarkannya pada mimpi indah. Mimpi yang senantiasa dia rangkai dari serpihan-serpihan doa yang ia dengar, menjelajahi nirwana sebagai bekal untuknya kelak menapaki masa depan indah.

Puas sudah kumenengadah, berbukit-bukit resah tlah kuadukan pada dia yang senantiasa menyertai hembusan nafasku. Kembali kumengajaknya berpetualang, meski ia terbuai. Segera kurengkuh tumpukan kertas yang tersusun menjadi lembaran-lembaran persegi dengan tinta hitam yang memenuhi halamannya. Pelan namun syahdu, kucoba meniti untaian huruf-huruf yang selalu melemparkan senyum termanisnya untukku. Betapa tidak, setelah usai sederetan huruf kujelajahi, deretan yang lain segera saja melambaikan tangan untuk segera kupeluk. Inilah yang membuatku ingin selalu berselancar dengan mereka. Si debay menjadi semakin terbuai, namun ia tidak lagi sedang bermimpi. Ia serius memasang gendang telinganya, menyiapkan memorinya dengan membukanya lebar-lebar. Ia berharap tak ada satu hurufpun yang luput dari perangkap simpanannya itu.

Aku sendiri heran dengan segala yang ia lakukan, betapa ia adalah sosok hebat yang sama sekali aku tak mampu menyainginya. Aku tak pernah bisa mengalahkannya, meski ia sosok yang baru saja menyapaku. Keberanian yang ada pada segumpal daging ini, nyatanya tumbuh dan berkembang atas keberanian yang ia berikan diam-diam untukku. Ketangguhanku dalam menyekap resah, ternyata juga bersumber dari ketangguhannya pula. Kebahagiaan dan ulasan senyum yang ada padaku, tak luput pula dari pemberiannya untukku.

Duhai si debay, betapa engkau benar-benar telah menyihirku. Tak bisa aku sedetikpun melenakanmu. Kau mengajarkanku betapa hidup ini adalah cinta, hidup ini adalah kasih sayang. Jika aku lena, kau bisikkan padaku, bahwa setiap hembusan nafas adalah doa dan setiap kedipan mata adalah dzikir untuk-Nya.

Aku mencintaimu sayang, tak kuasa rasa ini membendung letupan demi letupan cinta untuk segera memelukmu. Bersabarlah, bukankan rasa sabar ini tlah kau ajarkan padaku...
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan bulan lagi segera akan menyadi nyata percintaan kita, sehingga tak kan ada lagi resah, tak akan ada lagi gelisah..

Malang, 09 Oktober 2013

Kamis, 05 Desember 2013

Gejala Kolonialisme dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdul Moeis (Kajian Postkolonialisme)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sastra adalah bagian dari kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat. Sastrawan merupakan anggota masyarakat dan mereka mencipta karya sastra dengan mengambil pengalaman hidup yang berupa pemikiran-pemikiran tentang ajaran moral kehidupan kemudian memberikannya kembali kepada masyarakat. Pengalaman hidup yang berupa nilai-nilai itu dapat pula disebut dengan unsur instrinsik dalam karya sastra.
Para sastrawan melakukan perenungan yang mendalam untuk memahami hakikat kehidupan yang ada melalui proses kreatif, kemudian lahir karya sastra sebagai cerminan dari kehidupan yang nyata. Sastra bukan semata-mata karangan fiktif, akan tetapi sastra terlahir melalui proses imajiner. Sastra hadir dari endapan pengalaman dari dalam jiwa pengarang dan telah mengalami proses pengolahan jiwa melalui proses kreativitas. Gejala-gejala yang ditangkap oleh pengarang dari manusia-manusia di sekelilingnya direnungkan dalam jiwa dan batinnya. Setelah mengalami pengolahan dalam jiwa pengarang, disusunlah menjadi suatu pengetahuan baru. Pengarang akan menuangkan segala hasil perenungannya ke dalam karya sastra yang dibuatnya.
Indonesia merupakan negara yang pernah mengalami pahitnya penjajahan. Rasa paht tersebut dirasakan bangsa Indonesia selama ratusan tahun, yakni kurang lebih selama 350 tahun. Dalam kurun waktu yang sedemikian panjang tersebut, penjajahan yang dialami bangsa Indonesia telah meluluhlantakkan segala identitas dan karakter asli masyarakat Indonesia. Sebagai akibatnya mulai muncul sifat-sifat inferioritas ketika berhadapan dengan bangsa lain.
Dengan lahirnya fenomena-fenomena sedemikian, maka para pengarang yang juga merupakan bagian dari masyarakat Indonesia berusaha menuangkan gejala-gejala tersebut ke dalam sebuah karya melalu proses kreatifnya. Hal inilah yang dilakukan oleh Abdoel Moeis dalam karyanya, Salah Asuhan. Novel ini begitu sarat dengan gejala-gejala kolonialisme, benturan kebudayaan antara Timur dan Barat, serta anggapan bahwa manusia di negeri jajahan tidak lebih tinggi dari dari derajat manusia penjajah.
Tak dapat dipungkiri bahwa postkolonial merupakan sebuah wacana yang sangat menarik dan menantang. Melalui teks masyarakat postkolonial mampu mengekspresikan dan menemukan sarana resistensinya yang tajam. Teori postkolonial dimanfaatkan untuk menganalisis khasanah kultural yang menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi di negara-negara pascakolonial. Salah satu negara yang merupakan pascakolonial adalah Indonesia. Salah satu karya sastra yang dikenal mengandung unsur postkolonial adalah Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Novel tersebut merupakan objek-teks yang berkaitan dengan wilayah bekas jajahan imperium Eropa.
Postkolonialisme dalam kajian sastra merupakan strategi  bacaan yang mengahsilkan  pertanyaan-pertanyaan  yang dapat meantu mengidentifikasi adanya tanda-tanda kolonialisme dalam teks-teks kritis maupun sastra, dan menilai sifat dan pentingnya efek-efek tekstual dari tanda-tanda tersebut. Istilah postkolonialitas menunjukkan adanya tanda-tanda dan efek-efek kolonialisme dalam sastra, tetapi ia mengacu pada posisi penulis postcolonial sebagai pribadi dan suara naratifnya dengan cara yang menarik perhatian pada konteks yang lebih luas, dimana dibangun makna dalam dan sekitar teks sastra atau teks kritis itu sendiri (Day, 2008: 1).
Berdasarkan pemahaman tersebut, sesungguhnya  postkolonial adalah suatu jaringan sastra atas rekam jejak kolonialisme. Apabila ditelusuri dengan cermat, tentu banyak karya sastra Indonesia modern yang merekam jejak kolonialisme bangsa Barat dan Asia Timur Raya sepanjang sejarahnya. Atas dasar kenyataan sejarah bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari kolonialisme atau bangsa yang terjajah hingga ratusan tahun dan banyaknya karya sastra yang merekam jejak penjajahan, tentu sastra Indonesia modern menjadi gudang penelaahan postkolinialisme. Dalam Salah Asuhan itu terekam secara jelas jejak kolonial bangsa Barat terhadap bangsa Indonesia, terutama masalah bahasa dan identitas bangsa.
Masalah bahasa berkaitan dengan pengaruh bahasa kolonial terhadap bahasa terjajah, cara pengungkapan postkolonilitas dalam teks sastra Indonesia, dan cara yang digunakan oleh para penulis bekas jajahan dalam mendekolonisasi (kesadaran kebangsaan) bahasa penjajahan besar. Sementara itu, masalah identitas berkaitan dengan masalah hibriditas, yakni masalah jati diri bangsa yang berubah karena adanya pengaruh budaya dari bangsa kolonial, termasuk mimikri (tindakan meniru) budaya kolonial oleh bangsa terjajah dan subaltern (kaum yang terpinggirkan atau orang yang terjajah).
Kekuasaan kolonial Belanda membawa dampak terhadap perkembangan kesusasteraan di Hindia-Belanda hingga masa periode awal kemerdekaan Indonesia. Kolonial sendiri memiliki keterkaitan dengan sifat jajahan. Kolonialisme merupakan momen historis yang melatarbelakangi suatu bangsa. Kolonialisme telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan dan kebudayaan masyarakat jajahan, hal ini dapat berupa pemaksaan bahasa, perbudakan, peniruan dan penggantian budaya dan pemindahan penduduk.  Munculnya poskolonialisme menjadi wacana intelektual utama, lebih utamanya di negara-negara bekas jajahan.
Karya sastra merupakan lahan subur dalam usaha menggali wacana-wacana kolonialisme karena karya sastra merupakan tempat bertemunya ideologi-ideologi. Karya sastra yang ditulis oleh pihak penjajah maupun terjajah dalam prosesnya seringkali menyerap, mengambil, dan menulis aspek-aspek dari budaya lain serta menciptakan genre, gagasan-gagasan, dan identitas baru. Dengan demikian, karya sastra merupakan sarana penting untuk mengambil, membalikkan, atau menantang sarana-sarana dominan penggambaran dan ideologi-ideologi kolonial (Loomba, dalam Maslihatin, 2013).
Teori postkolonial digunakan sebagai strategi pembacaan yang dapat diharapkan mampu mengungkapkan pemaknaan baru. Oleh karena itu, peneliti berasumsi bahwa novel Salah Asuhan tersebut layak diteliti dengan teori postkolonialisme dengan berdasar pada argumen-argumen yang telah disebutkan di atas.